Rayakan Milad ke-10, HIMP2KAB Sultra Rangkaikan Dialog Publik

  • Bagikan
HIMP2KAB Rayakan Milad ke 10 sekaligus dirangkaikan dengan dialog publik. Foto: Aldho.
HIMP2KAB Rayakan Milad ke 10 sekaligus dirangkaikan dengan dialog publik. Foto: Aldho.

Kendari, SULTRAINFORMASI.COM – Dalam rangka merayakan Milad ke-10, Organisasi Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Kecamatan Bahodopi (HIMP2KAB), Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) merangkaikan sebuah kegiatan dialog.

Kegiatan perayaan Milad sekaligus dialog publik ini berlangsung di cafe Kopi Kita (Kopkit) cabang kedua, tepatnya di Jalan Malik Raya, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, Sultra, pada Sabtu (13/11) sore.

Dialog publik ini di isi 2 pemateri yakni Imanuel Hardjo Pradoto dan Asfar Marewa. Dialog ini bertemakan “Perubahan tata guna lahan terhadap eksistensi sosial budaya masyarakat kawasan industri”.

Salah satu pemateri pada dialog publik ini. Foto: Aldho.

Ketua panitia penyelenggara, Mustawakal Masempo mengatakan, bahwa Milad yang ke-10 ini adalah sebagai bentuk pengingat bahwa terdapat visi dan misi Himpunan yang perlu dicapai bersama.

“Seiring dengan berjalannya waktu HIMP2KAB terus mengalami perkembangan. Namun, di lain sisi juga terus berupaya untuk membenahi diri agar menjadi lebih baik lagi,” katanya, saat ditemui setelah berakhirnya kegiatan.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, substansi yang terkandung dari dialog publik tersebut adalah sebagai media belajar mengenai lingkungan di kampung, terkait tema yang diangkat dari keresahan mahasiswa.

Suasana perayaan Milad HIMP2KAB di cafe Kopkit. Foto: Aldho.

“Tentunya, semua ini melalui riset yang mendalam, sedikit gambaran resiko dari perubahan tata guna lahan terhadap eksistensi sosial budaya itu sendiri yaitu terdegradasinya unsur sosial dan kebudayaan daerah lingkar industri.

“Contohnya, mereka yang pemukimannya dipindahkan akibat menjamurnya industri akan mengalami perubahan kebiasaan hidup dan sebagainya, itupun jika penduduk betul-betul dipindahkan lalu bagaimana dengan penduduk yang bertahan karena mungkin alasan aset berupa kos-kosan yang notabenenya menjadi ladang penghasilan dari masyarakat lokal,” sambungnya.

Salah satu penanya pada kegiatan perayaan Milad sekaligus dialog publik ini. Foto: Aldho.

Mustawakal berharap, eksistensi mahasiswa lebih terlihat tidak hanya di luar daerah tapi juga di daerah sendiri. Kemudian ia mampu memanfaatkan fasilitas yang ada di kampung serta dapat bersaing dalam hal softskil dan sebagainya.

“Karena, tujuan utama dari kegiatan tadi memang untuk menumbuhkan minat teman-teman agar lebih peduli terhadap lingkungan yang pada hari ini terbilang miris,” tutupnya.

Laporan: Aldho
Editor: Aldho

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *