Keren, Mahasiswa asal Kolaka Buat Desain Bangunan Museum Etnologi Mekongga

  • Bagikan
Konsep Desain Museum Etnologi Mekongga yang dibuat oleh Alan Ali sebagai tugas Skripsi. Foto: Istimewa.
Konsep Desain Museum Etnologi Mekongga yang dibuat oleh Alan Ali sebagai tugas Skripsi. Foto: Istimewa.

KENDARI, SULTRAINFORMASI.COM – Alan Ali seorang Mahasiswa asal Desa Pelambua, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil menyelesaikan studi Strata Satu (S1) dengan nilai 92 (A) di Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi (Unusra), Kota Kendari.

Alan Ali juga menjadi salah satu lulusan terbaik di Prodi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik setelah membuat skripsi dengan desain mewah keren untuk Kabupaten asalnya.

Skripsi tersebut berjudul, “Museum Etnologi Mekongga di Kabupaten Kolaka dengan Penekanan Arsitektur Nusantara”. Judul itu mampu dipertahankan Alan dihadapan penguji saat ujian tutup, pada Rabu (10/08/2022) beberapa hari lalu.

Alan Ali (ujung kanan) usai mempertahan konsep desain tersebut kepada penguji. Foto: Istimewa.

Alan Ali saat dihubungi sultrainformasi.com mengatakan, dirinya sangat bersyukur dengan hasil yang diraih. Kata dia, saat ini hanya menunggu untuk diwisuda.

“Alhamdulillah, saat ini tinggal tunggu Wisuda dan kemungkinan jatuh, pada hari Sabtu (10/09/2022) mendatang. Kalau yudisium sudah, kemarin itu tanggal (16/08/2022),” kata Alan kepada sultrainformasi.com saat dihubungi melalui telephone genggam, pada Minggu (21/08/2022) pagi.

“Konsep desain itu saya persembahkan untuk Kolaka,” lanjutnya.

Alumni SMKN 1 Samaturu itu mengaku, dalam penyelesain desain tersebut menghabiskan waktu 2 minggu lebih.

“Lumayan lama sih, kalau dirincikan, untuk konsep animasi pengerjaannya sekitar 8 hingga 10 jam, proses editing diantaranya voice over, effect, dan lain-lain sekitar 6 jam. Kalau yang lama itu modelling 3D nya itu memakan waktu sekitar 2 minggu,” ucapnya.

Sementara dari ide desain tersebut, dia mengatakan, keseluruhan terinspirasi dari “SORUME” atau “Anggrek Serat” Flora Endemik asli bumi Mekongga.

“Karena, sampai saat ini masih banyak generasi muda Mekongga lupa bahkan tidak tau arti dan sejarahnya karena tertutupi dengan “KAKAO” yang notabene bukan tanaman endemik Sulawesi,” tambahnya.

Dalam pengakuannya, dia mengangkat tema Museum Etnologi karena keresahan pribadi semata. Menurutnya, dia melihat Kebudayaan Tolaki Mekongga, baik secara fisik maupun non fisik masih cenderung sporadis.

“Sederhananya saja kak, masih banyak generasi muda yang masih bingung membedakan secara spesifik tolaki Konawe dan tolaki Mekongga. Arti kata sorume saja mungkin masih banyak yang tidak tau,” jelasnya.

“Karena keresahan saya hanya seputar kebudayaan etnis Mekongga, maka menurut saya wadah yang tepat untuk menyalurkan keresahanku adalah mendesain bangunan Museum Etnologi,” lanjutnya.

Selain itu, Alan juga menceritakan konsep desain tersebut secara singkat. Kata dia, konsep desain ini secara filosofis sangat kuat dipengaruhi oleh ‘Sorume’ yang dimana dahulu Sorume menjadi benda yang sangat bernilai. Namun saat ini cenderung terlupakan oleh serbuan arus globalisasi.

“Dalam desain ini saya padukan dengan penekanan pada Arsitektur Nusantara yang saya nilai sangat cocok dengan budaya Mekongga yang selalu menjunjung tinggi toleransi,” ungkapnya lagi.

Saat Alan ditanya apa harapan terkait desain Skripsi tersebut. Alan mengaku sangat berat rasanya untuk diungkapkan. Tapi jika diminta untuk jujur sebagai putra asli kelahiran tanah Mekongga, dirinya mengharapkan seluruh stake holder di Kabupaten Kolaka.

“Harapan saya seluruh stake holder di Kolaka lebih peka lagi dalam ber arsitektur, khususnya untuk bangunan pemerintahan, kita punya jati diri arsitektur lokal yang sangat kuat, hentikan reklamasi dan hentikan pembangunan yang memunggungi laut,” harap dia.

“Kemudian, tolong perhatikan juga Mahasiswa-Mahasiswa berprestasi yang tidak terdeteksi radar Beasiswa Pemda, libatkan mereka dalam membangun kampung halaman, sebelum negara asing yang merebutnya,” harapnya lagi.

Terakhir, dia juga mengharapkan agar Skripsi miliknya bisa dimuat dalam jurnal terakreditasi.

“Sehingga saya bisa saya jadikan portofolio untuk lanjut S2 ke luar negeri mohon doanya saja,” harap Alan.

“Saya juga mengucapkan terima kasih sama tim
K-Out Production yang sangat hebat dalam membuat medley lagu daerah Sultra dan Sulsel. Ini sangat cocok mewakili keberagaman arsitektur nusantara,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *