FMIPA UHO Gelar Pengabdian Melalui Pendampingan Pengembangan Wisata Pendidikan Hutan Mangrove Di Desa Tanjung Tiram

  • Bagikan
Suasana Praktek Lapangan dan Pendampingan Inventarisasi dan Pemasangan Nama Jenis Mangrove Sebagai Salah Satu Sarana Wisata Pendidikan Hutan Mangrove. Foto: Istimewa.
Suasana Praktek Lapangan dan Pendampingan Inventarisasi dan Pemasangan Nama Jenis Mangrove Sebagai Salah Satu Sarana Wisata Pendidikan Hutan Mangrove. Foto: Istimewa.

KONAWE SELATAN, SULTRAINFORMASI.COM – Desa Tanjung Tiram dengan luas wilayah ± 9,91 Km2 merupakan salah satu desa pesisir di Kecamatan Moramo Utara dapat dijangkau dengan mudah dari Kota Kendari, baik dengan kendaraan roda 4, dan roda 2 maupun perjalanan melalui laut, terutama untuk kegiatan wisata.

Desa Tanjung Tiram memiliki potensi wisata bahari yang layak untuk dikembangkan, salah satunya ialah potensi hutan mangrove.

Namun demikian hutan mangrove di desa ini pada beberapa tempat telah mengalami kerusakan, sehingga diperlukan beberapa upaya perbaikan melalui konservasi hutan mangrove.

Suasana Kegiatan Penyuluhan/Sosialisasi Pengembangan Wisata Pendidikan Mangrove di Desa Tanjung Tiram. Foto: Istimewa.

Melihat potensi dan permasalahan tersebut, 6 dosen FMIPA Universitas Halu Oleo yakni Prof. Dr. Jamili, M.Si., Dr. Ida Usman, S.Si.,M.Si, Dr. La Ode Kadidae, S.Si., M.Si, Dr. Nur Arfayanti, S.Si.,M.Si, Dr. Suriana, M.Si, dan La Ode Adi Parman Rudia, S.Si., M.Pi., menggelar Pengabdian Masyarakat di Di Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan.

Selain 6 dosen FMIPA Universitas Halu Oleo, juga terdapat 4 mahasiswa yang mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yakni Veron Syabir, Muh Yusuf, Bery Zakaria, Asrina

Dalam keterangannya, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Prof. Dr. Jamili, M.Si. menerangkan tema kegiatan pengabdian ini adalah “Pengembangan Edu-Ekowisata Mangrove Sebagai Media Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan” dengan mengambil lokasi Ekosistem Mangrove di Desa Tanjung Tiram.

Kegiatan ini secara umum dilakukan melalui tahapan workshop ekowisata mangrove, praktek inventarisasi dan pemberian label jenis-jenis mangrove yang dilakukan pada 12 November 2022.

Lebih lanjut Prof. Dr. Jamili, M.Si., menjelaskan kegiatan pengabdian ini digagas dengan melibatkan banyak pihak dari akademisi, pemerintah, dan tentunya masyarakat setempat.

Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif untuk memaksimalkan sumber daya manusia daerah setempat dalam menghasilkan potensi ekowisata mangrove yang berkembang dengan didukung oleh masyarakat secara penuh melalui pelibatan masyarakat baik dari segi perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pengelolaan ekowisata sampai tahap evaluasi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *